Candi Cetho yang terletak di atas bukit Dusun Cetho, Desa Gumeng, di ketinggian 1496 meter dpl. Situs bersejarah di akhir masa kejayaan Majapahit ini seperti halnya sekarung hadiah yang dijanjikan bagi mereka yang sanggup menggapai puncak bukit Desa Gumeng.
Bagaimana tidak, lokasi candi ini seperti
berada di atas bukit dengan jalan yang sangat menanjak layaknya
rintangan yang harus dilalui wisatawan sebelum mendapatkan yang mereka
inginkan. Jalanan semakin menanjak begitu wisatawan semakin mendekati
lokasi wisata dan tak jarang juga banyak kendaraan pengunjung baik motor
atau mobil macet karena tidak kuat mendaki tanjakan curam tepat di
bibir pintu masuk candi.
Usaha mendaki tanjakan menuju candi
seketika akan terbayar begitu wisatawan menginjakan kaki di situs
bersejarah itu. Hamparan peninggalan leluhur yang indah dan tertata rapi
layaknya taman di area ekskavasi sepanjang 190 meter dan lebar 30 meter
menjadi hadiah bagi mereka yang berhasil menggapainya.
Peninggalan yang paling menonjol di situs candi ini adalah temuan
prasasti dan juga tatanan batu mendatar pada teras ke VII dan III.
Tafsir dari prasasti memberikan informasi tentang tahun pendirian dan
fungsi candi yaitu didirikan pada tahun 1397 Saka atau 1475 M sebagai
tempat peruwatan atau tepat pembebas dari kutukan.
Hal itu semakin jelas dari tafsir tatanan batu mendatar yang membentuk
Garuda yang membentangkan sayap. Pada bagian atas tatanan batu itu
diketemukan simbol phallus yang menyentuh simbol vagina yang ditafsirkan sebagai labang penciptaan atau kelahiran setelah kebebasan dari kutukan.




Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar